Musik adalah bahasa jiwa. Melodinya laksana hembusan angin sepoi-sepoi bergetar dengan penuh cinta. Ketika lentik jemari musik yang lembut mengetuk pintu perasaan kita, mereka membangkitkan kenangan yang telah lama terkubur dalam makam masa lalu. Nada-nada musik melankolis menghantarkan kita pada kenangan yang amat muram. Suara dawai-dawai terkadang membuat kita mencucurkan air mata saat sepeninggal kekasih yang tercinta, pula membuat kita tersenyum manis pada kedamaian yang dianugerahkan Tuhan.
Sepenggal pepatah milik penyair Kahlil Gibran tersebut boleh jadi menggambarkan makna musik bagi saya. Bagi saya, musik-apapun bentuknya-harus bisa dinikmati oleh setiap telinga yang mendengarnya. Inilah yang menjadi motivasi saya untuk mengubah citra sebuah orkestra yang erat dengan kesan dingin dan kaku, menjadi sebuah harmoni yang mudah dicerna dan dapat dinikmati oleh semua kalangan.
Menciptakan sebuah komposisi yang universal namun tidak kehilangan kualitas musikalnya bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk itu, saya melanjutkan studi di Berklee College of Music, Boston. Pada tahun 1996, saya berhasil meraih gelar cum laude. Mungkin karena prestasi saya inilah saya pernah dipercaya sebagai asisten profesor di jurusan tempat saya melanjutkan studi, Film Scoring of Berklee College.
Prestasi yang pernah saya raih dalam mempelajari musik tersebut mungkin merupakan hasil dari usaha yang telah saya rintis sejak lama. Saya, yang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, telah mengenyam pendidikan musik sejak saya kecil. Sementara kedua saudara laki-laki saya sibuk bermain, saya lebih suka berlatih piano dan membaca buku-buku musik. Melihat bakat musik yang saya miliki, kedua orangtua saya-M. Rosjaad dan Tutiek Kusnowati-memutuskan untuk memberikan bimbingan les piano klasik saat saya berumur 4 tahun.
Pendidikan piano klasik yang saya jalani tidak berhenti di situ saja. Sekitar tahun 1980-an, saya mempelajari piano klasik di bawah bimbingan Baartje Sitindjak. Saya, yang saat itu masih berumur 8 tahun dan berdomisili di Surabaya, sering mengikuti kompetisi yang diadakan oleh para guru piano klasik dan meraih gelar juara.
Ketika berusia 9 tahun, saya bergabung ke dalam Junior Original Concert (JOC) milik Yamaha Music Indonesia. Adapun JOC merupakan sekolah sekaligus kompetisi musik yang diperuntukkan bagi anak-anak di bawah umur 16 tahun. Mereka dibimbing untuk menciptakan sebuah komposisi musik yang berkualitas, untuk kemudian dibawa ke dalam panggung kompetisi. Saya pun pernah tampil dalam Natioal JOC Festival of Indonesia tahun 1985. Bersama lembaga pendidikan musik milik Jepang tersebut, saya diundang untuk menampilkan komposisi musik milik saya di negeri sakura setiap tahun.
Pengalaman bermusik saya bersama Yamaha Music berlanjut hingga saya duduk di bangku SMP. Saat itu, saya berkesempatan untuk tampil dalam perayaan 100 tahun Yamaha Music. Yamaha Music menggelar konser amal di markas Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang terletak di New York, Amerika Serikat. Dalam kesempatan tersebut, saya dipercaya sebagai satu-satunya murid Yamaha Music untuk membawakan komposisi Phinisi Nusantara bersama murid-murid Yamaha Music lainnya yang berasal dari Jepang, Meksiko, dan Amerika.
Saya mengidolakan John Williams-seorang music illustrator untuk film layar lebar Star Wars, Superman, dan ET. Sosok inilah yang kemudian mendorong saya untuk melanjutkan studi di jurusan Film Scoring milik Berklee College of Music, Boston selama 4 tahun. Di sekolah inilah saya sempat beberapa kali bertemu dengan idola saya, John Williams.
Awal perjalanan karir saya dalam dunia musik Indonesia dimulai tahun 1998, saat saya kembali ke Jakarta. Saya berkenalan dengan penyanyi Titi DJ dan Dorie Kalmas di tahun tersebut. Untuk pertama kalinya, saya mengaransemen komposisi berjudul Bahasa Kalbu yang kemudian dipopulerkan oleh Titi DJ. Sejak saat itu, saya kerap menjadi arranger bagi beberapa penyanyi seperti Ruth Sahanaya, Sheila Madjid, Warna, Krisdayanti, Rita Effendi, Audy, Padi, Bebi Romeo, dan Ari Lasso.
Karir saya bersama orkes Indonesia dimulai pada tahun 2003. Di tahun tersebut, saya bertemu dengan pebisnis Indra Usmansyah Bakrie. Indra Bakrie berencana untuk membentuk sebuah orkestra beraliran musik pop. Akhirnya, Indra Bakrie membentuk sebuah orkestra pop bernama Magenta Orchestra yang mengusung saya sebagai music director dan Oni Krisnerwinto sebagai conductor. Magenta Orchestra resmi berdiri pada tanggal 18 Maret 2004. Sejak saat itu hingga kini, saya bersama Magenta Orchestra terus berusaha memberikan kontribusi bagi dunia musik Indonesia.